Prof. Dr. Ir. Hi. Nelson Pomalingo, M.Pd

Prof. Dr. Ir. Hi. Nelson Pomalingo, M.PdProf. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd. demikian nama lengkapnya, lahir di Limboto, 24 Desember 1962, ia terlahir dari keluarga dengan latar belakang Guru dan merupakan anak sulung dari pasangan Soekarno Pomalingo dan Hj. Neli Tulie.

Tahun 1975 Nelson menamatkan Sekolah Dasar di Desa Buhu Kec. Tibawa Kabupaten Gorontalo. Tinggal di desa yang sangat terpencil ini meninggalkan kesan masa kecil yang begitu mendalam karena Nelson merasakan dan menyaksikan langsung kondisi kehidupan masyarakat yang serba sulit. Nelson menamatkan pendidikan SMP dan SMA di Limboto dan lulus tahun 1977. Mungkin karena masa kecilnya dihabiskan di desa, di lingkungan para petani, setelah lulus SMA, Nelson remaja merantau ke Manado dan memilih masuk di Fakultas Pertanian Universitas Samratulangi (Unsrat) Manado, dengan konsentrasi juruan Ilmu Tanah. Tahun 1986, ia resmi menyandang gelar InsinyurTahun itu juga Nelson muda, pulang ke kampung halamannya di Gorontalo dan memilih menjadi seorang Guru di sekolah swasta yang berbasis Pertanian, yakni di SPP/SPMA Limboto . Semenjak menjadi Guru itulah, Nelson mulai mengukir sejarah baru, yakni berhasil menghimpun dan menyatukan 43 sarjana alumni Manado dan tampil sebagai garda terdepan dalam merintis berdirinya Sekolah Menengah Teknik Pertanian, Perikanan dan Peternakan (SMTPPP) Telaga dan menjabat sebagai Kepala Sekolah sejak tahun 1989 hingga tahun 1992. Tahun 1987, Nelson resmi terangkat sebagai Dosen FKIP Unsrat Manado di Gorontalo.

Setahun kemudian Nelson mengakhiri masa lajangnya, menikah dengan Fory Armin Naway dan kini dikaruniai 4 orang anak: masing-masing, Moh. Takdirsyah, Moh. Firmansyah , Moh. Ilhamsyah dan Putri Masfasyah Tahun 1992, Nelson melanjutkan studi Magister Pendidikan (PKLH) Pasca Sarjana di IKIP Negeri Jakarta dan lulus tahun 1996. Tahun itu juga, Nelson melanjutkan pendidikan Doktoral (S3) PKLH di Universitas Negeri Jakarta dan lulus dengan predikat Cum Laude tahun 1999.

Selama rentang waktu melanjutkan studi S2 dan S3 (1996-1998), Nelson menyibukkan diri menjadi Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Gorontalo, Institut Bisnis Indonesia danUNJ serta UNHAS Makassar. Sejak tahun 2002 hingga sekarang, Nelson tampil sebagai Dosen Penguji dan Pembimbing mahasiswa S2 dan S3 di beberapa Universitas ternama di Indonesia antara lain UI, UNJ, UNPAD Bandung (S3), UNHAS Makassar (S2), UNSRAT Manado (S2), IPB (S3), UNAIR Surabaya (S3) dan UGM (S3).

Setelah meraih gelar Doktor tahun 1999, Nelson sempat dihadapkan pada dilema antara memilih berkarir di ibu kota Jakarta atau Gorontalo. Namun karena pertimbangan demi masa depan daerah dan tanah kelahirannya, Nelson lebih memilih pulang kampung halamannya Tahun 1999 hingga 2001, Nelson dipercaya menjabat Pembantu Ketua IV STKIP Negeri Gorontalo, tahun 2001-2002 menjadi Pembantu Rektor IV IKIP Negeri Gorontalo merangkap Penjabat Pembantu Rektor I IKIP Negeri Gorontalo. Tahun 2001 itu juga ia terpilih sebagai Ketua Panitia Alih Status STKIP menjadi IKIP Negeri Gorontalo yang dinilai sukses menjalankan kepemimpinannya hingga menuai keberhasilan perubahan status STKIP Negeri Gorontalo menjadi IKIP Negeri Gorontalo.

Januari 2002, memasuki usia 40 tahun Nelson Pomalingo dilantik menjadi Rektor IKIP Negeri Gorontalo. saat itu, ia dinobatkan sebagai Rektor termuda di Indonesia. Saat menjabat Rektor, Nelson Pomalingo berhasil mewujudkan harapan, obsesi dan cita-cita masyarakat yang menginginkan IKIP Negeri Gorontalo menjadi sebuah Universitas. Ia kemudian tampil langsung sebagai Ketua Panitia Perluasan Status IKIP menjadi Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Tahun 2004 ia berhasil melahirkan Universitas Negeri Gorontalo yang diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2004. Tahun 2005 saat transisi perubahan status IKIP Negeri Gorontalo ke Universitas, ia dipercaya sebagai Penjabat Rektor UNG. Jabatan tersebut tetap di pundaknya karena tahun 2006 Nelson kembali terpilih menjadi Rektor hingga tahun 2010.

Deretan prestasi yang diraih UNG di bawah kepemimpinannya di Perguruan Tinggi terbesar di Gorontalo, selain berhasil mewujudkan IKIP Negeri Gorontalo menjadi Universitas, juga berhasil dengan gemilang menjadikan UNG sebagai lembaga Pendidikan Tinggi yang memiliki daya tarik, tidak hanya oleh masyarakat Gorontalo tapi juga oleh mereka yang berasal dari luar Gorontalo. Saat kepemimpinan Nelson jumlah mahasiswa di UNG yang pada tahun 2003 hanya berkisar 4000 orang berkembang pesat menjadi 20.000 lebih mahasiswa pada 2010. Demikian pula dengan jumlah dosen yang bergelar Magister dan Doktor mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan total jumlah dosen pada tahun 2010 mencapai angka 500 orang dosen.

Tidak hanya itu, di masa kepemimpinan Nelson, UNG menjadi kampus peradaban yang memainkan peran strategis dalam dinamika pembangunan dan demokrasi di Gorontalo. Mahasiswa benar-benar diberikan kebebasan dalam berekspresi sebagai salah satu wahana pembelajaran bagi mahasiswa untuk tampil kritis. Nelson benar-benar menyadari bahwa mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual dan calon-calon pemimpin masa depan harus diberikan ruang untuk belajar kritis, melatih intuisi pemimpin yang menghayati nilai-nilai berdemokrasi. Yang jelas, dimasa kepemimpinan Nelson mahasiswa berserta organisasi-organisasi intra kampus benar-benar hidup dan turut memberi sumbangsih terhadap dinamika politik, ekonomi dan dinamika demokrasi di Provinsi Gorontalo.

Semasa menjabat Rektor UNG, Nelson Pomalingo merupakan tokoh Gorontalo yang terpilih untuk mengikuti Kursus di Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS) RI bersama tokoh-tokoh nasional lainnya dari seluruh Indonesia. Tahun 2010, sesuai aturan, Nelson masih memiliki peluang untuk maju sebagai calon Rektor UNG periode kedua. Tahun 2002 ia masih sebagai Rektor IKIP Negeri Gorontalo, secara definitif ia memangku jabatan Rektor UNG baru 1 (satu) periode, sehingga masih memiliki peluang untuk tampil pada periode ke-2 (2010-2014). Namun sebagai sosok intelektual yang aktifis dan aktifis yang akademisi, Nelson memberikan kesempatan kepada yunior-yuniornya untuk tampil menjadi pemimpin. Pada September 2010, Ia mengakhiri masa jabatannya selaku Rektor UNG dengan meninggalkan prestasi-prestasi yang hingga kini terus dikenang dan menjadi faktor yang secara langsung maupun tidak langsung terus berdampak positif terhadap eksistensi dan kiprah UNG hingga sekarang.

Dalam diri Nelson Pomalingo, tidak hanya mengalir talenta sebagai akademisi yang memiliki jiwa kepemimpinan sejati, tapi juga seorang aktifi yang sangat perduli terhadap masyarakat. sudah terbina semenjak kecil. Mulai dari OSIS, Pramuka hingga organisasi kemahasiswaan diikutinya dengan giat. Sejak menjadi mahasiswa ia masuk sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tahun 1986, ia pernah memangku jabatan sebagai Ketua Umum Pengurus Remamuda. Tahun 1987-1992 menjadi Ketua Pengurus Angakatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), tahun 1992-199 Ketua Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), tahun 1996-1999 Ketua Departemen Pendidikan Lamahu Jakarta. Tahun 1996- sekarang Anggota HIPA PKLH, tahun 2001-2012 Presidium KAHMI Provinsi Gorontao, tahun 2001-sekarang menjabat Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), tahun 2002-2013, Ketua PGRI Provinsi Gorontalo.

Saat menjabat Ketua PGRI Provinsi Gorontalo, Nelson Pomalingo mampu melahirkan karya-karya monumental diantaranya, sukses melakukan konsolidasi organisasi hingga turun ke kecamatan-kecamatan dan ranting, menggagas dan merealisasikan pembangunan Gedung PGRI yang kini berdiri megah dua lantai dan berdiri di atas lahan seluas 4.050 meter2 serta mampu menyatukan guru honor dengan menggagas dan merealisasikan pembentukan organisasi Forum Guru Honor (FGH) yang kini sudah memiliki pengurus hingga di tingkat cabang.

Tidak berhenti sampai disitu, Nelson juga tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina The Presnas Centre sejak tahun 2003, tahun 2004-2012 Wakil Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi Gorontalo, Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Gorontalo, 2006- sekarang Ketua Dewan Mesjid Indonesia Provinsi Gorontalo, 2011-sekarang Ketua Koalisi Kependudukan Provinsi Gorontalo, 2013-sekarang Dewan Pembina Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Provinsi Gorontalo, 2013-2018, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Provinsi Gorontalo dan tahun 2013- 2018 Ketua Pengurus Besar PGRI Jakarta.

Dari berbagai organisasi inilah kematangan kepemimpinannya kian terasah. Tidak heran, jika tahun 1997 saat gerakan reformasi mulai bergulir di seantero tanah air, ia menangkap momentum itu untuk masa depan Gorontalo. Tahun 1999, Nelson mulai bergerilya menghimpun kekuatan dari para rekan-rekan aktifis, dosen dan komponen lainnya di Gorontalo dan tokoh Gorontalo di perantauan seperti Jakarta, Bandung, Jokyakarta dan Manado merintis berdirinya Provinsi Gorontalo yang terpisah dari daerah induk Provinsi Sulawesi Utara.

Saat aktif dalam gerakan pembentukan Provinsi itulah Nelson dipercaya menjadi Ketua Presidium Nasional Pembentukan Provinsi Gorontalo. Tanggal 23 Januari 2000, Nelson berhasil dengan gemilang mendeklarasikan berdirinya Provinsi Gorontalo di lapangan Gelora 23 Januari Telaga yang dihadiri oleh ribuan rakyat Gorontalo.

Pada awal tahun 2001, setelah Provinsi Gorontalo resmi berdiri, yang diikuti pelantikan penjabat Gubernur Gorontalo Tursandi Alwi, sosok Nelson dipercaya menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Gorontalo pertama yang diberikan tugas khusus merancang dan merencanakan pembangunan strategis pembangunan di Gorontalo.

Setelah mengakhiri masa jabatannya di UNG tahun 2010, ketokohan Nelson terus diperhitungkan, Tahun 2011 saat pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2012-2017, ia digadang oleh Bupati Kab. Gorontalo David Bobihu Akib menjadi calon Wakil Gubernurnnya dengan mengusung nama Hati rakyat Lebih suka David-Nelson (HARLEY DAVIDSON). Namun pada Pilgub kali ini, Davidson meraih suara terbanyak ketiga dari 3 calon yang maju pada moment Pilkada tersebut.

Meski belum lolos dalam ajang Pemilihan Gubernur, Nelson tetap enjoy, baginya kekalahan dalam Pilkada bukan sesuatu yang mematahkan semangat dan cita-citanya bagi perjuangan rakyat. Buktinya ia tetap bersemangat dan tepatnya pada Desember 2012, ia didaulat menjadi Rektor Universitas Muhamadiyah Gorontalo masa bhakti 2012-2016.

Lagi-lagi dibawah kepemimpinannya, UMG mengalami lompatan kemajuan yang signifikan sehingga boleh disebut, kampus UMG saat ini menjadi perguruan tinggi swasta terbesar di Gorontalo. Sebelum tahun 2013, jumlah mahasiswa di kampus ini tidak lebih dari 800 orang, namun hanya dalam satu tahun berkembang menjadi 4000 mahasiswa. Jumlah dosen yang pada tahun 2012 hanya sekitar 80 orang bertambah menjadi 200 orang lebih. PAD kampus yang hanya Rp 2 milyar tahun 2012 kini telah mencapai angk ayang cukup fantastis Rp 20 milyar.

Dari uraian di atas, maka dalam rentang waktu tahun 1989 hingga sekarang, sosok Nelson Pomalingo telah memangku 11 jabatan strategis di lembaga formal dan dalam kapasitasnya sebagai PNS. Mulai dari jabatan Kepala SMK Pertanian Gotong Royong Telaga tahun 1989-1992, Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup tahun 1996, Pembantu Ketua IV STKIP Gorontalo 1999-2001, Pembangtu Rektor IV IKIP Negeri Gorontalo, 2001-2002, Pj. Pembantu Rektor IKIP Negeri Gorontalo 2001-2002, Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo 2001, Rektor IKIP Negeri Gorontalo 2002-2004, Pj Rektor Universitas Negeri Gorontalo 200, Rektor Universitas Negeri Gorontalo 2006-2010, Anggota Badan Akreditas Nasional (BAN)SM 2012-2017, Rektor Universitas Muhammadiyah 2012-2016.

Sebagai seorang akademisi dan Guru Besar, Nelson Pomalingo telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah antara lain, Buku sebanyak 10 judul, Penelitian, kurang lebih 50 buah, Makalah Presentasi Ilmiah, kurang lebih 200 buah, Buku IPA SD, Buku Biologi SMP, Buku Paradigma Pendidikan, Buku Inovasi Pendidikan, Buku Pengetahuan Lingkungan, Buku Peta Mental, Buku Gorontalonologi serta makalah-makalah antara lain, Pengelolaan sumber daya tanah yang berbasis ker akyatan , Organisasi dan Kepemimpinan, Permasalahan Pendidikan, Berwawasan Gender (Disampaikan pada Forum Seminar Internasional, Pemberdayaan Perempuan dan Persoalan, Bangsa) Srategi Pengembangan SDM di Gorontalo, Peranan IPTEK dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Kebijakan UNG kaitannya dengan Sertifikasi Guru dan Dosen, Pengembangan UNG menjadi Perguruan Tinggi yang bermutu dan bermartabat, Teknik Penyerapan dan Pengolahan Informasi Sebagai tokoh yang telah memainkan peran penting di bidang pendidikan, aktifis dan pemerintahan.

Nelson telah berkesempatan mengikuti kursus dan pelatihan di luar negeri dan menunaikan tugas penting di negara-negara sahabat sebagai salah satu manifestasi eksistensinya yang turut memberi andil dalam meraih sukses. Ia pernah mengunjungi Australia, Singapura, Thailand, Brunai Darusalam sebagai kapasitasnya sebagai Rektor IKIP dan Rektor UNG. Ia juga pernah mengunjungi Jepang, Cina, Jerman, Belanda, Prancis, kunjungan LEMHANAS ke Maroko, kunjungan pendidikan BERMUTU di Jordania, Kamboja, Myanmar, Iran, Turki, Bangladesh dan Brunai Darussalam dalam kapasitasnya sebagai Anggota BAN SM pusat.

Dari berbagai deretan kiprah dan prestasi serta dedikasinya bagi Gorontalo dan bangsa ini, Nelson meraih berbagai penghargaan yang sudah mencapai ratusan jumlahnya. Diantara deretan penghargaan tersebut diantaranya Penghargaan dari Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad dalam perannya yang sangat strategis dalam perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo. penghargaan yang sama juga diberikan oleh organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Nelson juga pernah mendapatkan penghargaan SATYA LENCANA dari Presiden RI, Penghargaan dari HMI sebagai akademisiterbaik Gorontalo, penghargaan dari Walikota Gorontalo sebagai pendidik yang berperan aktif dalam pembangunan di Kota Gorontalo, penghargaan dari Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia-Gorontalo (HPMIG), penghargaan dari Yayasan DAMANDIRI sebagai apresiasi atas kepedulian dan kepemimpinan dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui POSDAYA, Anugerah Wisata Award dari Gubernur Gorontalo.